Rencana Mall di Salatiga

12/10/2010 03:42

Rencana pembangunan mall di bekas bangunan eks Kodim 0714 Salatiga tidak hanya menjadi perbincangan di kalangan pengamat serta pemerhati lingkungan di Kota Salatiga. Pro dan kontra seputar pembangunan mall di lahan yang menjadi salah satu aset Bangunan Cagar Budaya (BCB) ini merambah hingga ke kalangan akademisi.
 
Hal tersebut nampak saat diselenggarakannya Forum Diskusi Mahasiswa yang digagas oleh Senat Mahasiswa Universitas (SMU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Salatiga. Hadir sebagai pembicara dalam forum diskusi ini adalah Valentino Haribowo selaku Staf Ahli Walikota Salatiga; Sri Danudjo, Kepala Disperindagkop & UMKM Kota Salatiga, dan Danny Zacharias, S.H., M.A., selaku pensiunan Dosen Fakultas Hukum UKSW.
 
Kegiatan yang diadakan pada Kamis (6/11) bertempat di Gedung E 126 ini dibuka oleh Pembantu Rektor V UKSW, Neil Semuel Rupidara, SE., M.Sc., Ph.D. Tema yang diangkat adalah tema “Pembangunan Mall (Citywalk) di Salatiga Ancaman atau Anugerah?”. Diawal, Valentino memaparkan mengenai perkembangan rencana pembangunan mall tersebut mulai dari peluang investasi dan ekonomi, perizinan, hingga analisis dampak lalu lintas (Andalalin) yang hingga saat ini masih dalam proses.
 
“Saat ini masih banyak hal yang perlu diperhatikan terkait pembangunan mall yang akan dilakukan di Salatiga, salah satunya yaitu perizinan mengenai perubahan fungsi gedung tersebut sebagai cagar budaya dari BP3 Jateng,” kata Valentino.
 
Lebih lanjut Valentino menjelaskan beberapa alasan pemerintah mendukung proyek pembangunan mall. Selain adanya peluang investasi dan ekonomi, pemerintah menangkap kecenderungan warga yang selama ini berbelanja di luar Salatiga seperti Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Selain itu dengan dibangunnya mall diharapkan mampu memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat Salatiga serta menjadi ikon baru di kota Salatiga.
 
Jalin Kemitraan
 
Saat disinggung oleh mahasiswa mengenai dampak bagi industri kecil jika nantinya mall tersebut jadi dibangun, Valentino menegaskan bahwa Pemerintah Kota Salatiga akan mewajibkan pihak pengelola mall untuk melakukan kemitraan terhadap pedagang tradisional maupun usaha kecil yang ada di Salatiga.
 
Senada dengan hal tersebut Sri Danudjo mengatakan bahwa saat ini muncul keresahan dari beberapa pemilik usaha kecil dan UMKM terkait pembangunan mall di Salatiga. Mereka resah usaha mereka tidak mampu berkembang apabila harus bersaing dengan gerai-gerai usaha di mall tersebut yang barangnya berasal dari luar Salatiga.
 
“Namun kami menjelaskan bahwa nantinya akan dijalin kemitraan antara pihak pengelola mall dengan pedagang tradisional dan industri kecil di Salatiga,” terangnya.
 
Danny Zacharias, S.H., M.A., meminta kepada pemerintah untuk terus menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait pembangunan mall di Salatiga sehingga tidak mematikan usaha kecil yang selama ini sudah ada. Sebagai akademisi beliau mendukung penuh diselenggarakannya kegiatan ini, sebab mahasiswa dianggap sebagai unsur stakeholeder yang strategis dan dianggap mampu memberi kontribusi positif bagi perkembangan pembangunan kota.

“Perlu pertimbangan yang matang sebelum pemerintah benar-benar merealisasikan proyek ini. Pemerintah perlu memperhatikan sektor lain juga yang mungkin memperoleh dampak kurang menguntungkan. UKSW sebagai lembaga pendidikan dan penelitian membuka diri apabila pemerintah membutuhkan sumbang saran, ” imbuh Danny.

Diakhir, Danny Zakharias memberi kesimpulan bahwa diperlukan kearifan dan dukungan semua pihak serta menghilangkan ego pribadi demi kemajuan dan kepentingan bersama. (chis/upk_bphl/foto:chis)

Back